News List

Shalat adalah perjalanan jiwa menuju Allah , sebuah panggilan  untuk kembali kepadaNya. Adakalanya jiwa kita terasas letih, sholat pun hanya sekedar menjadi rutinitas saja. Sekedar menggugurkan kewajiban . Tubuh kita bergerak,  bibir pun melafalkan doa, tetapi hati kita tertinggal entah dimana.

 

Kita berdiri di hadapan-Nya, tapi pikiran kita melayang pada urusan dunia. Akhirnya, setelah salam terakhir diucapkan kita pun kembali pada kehidupan yang sama, masih tetap gelisah, masih tetap kosong dan hampa.

 

Buku ini adalah ajakan lembut untuk kembali mendekat, bukan sekedar kepada gerakan dan bacaan, melainkan percakapan yang sesungguhnya dengan Allah. Karena shalat bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan tapi seharusnya sholat bias menjadi ruang untuk jiwa yang letih beristirahat, tempat dimana kita bias menumpahkan air mata tanpa malu, tempat dimana kita menemukan jalan pulang.

 

Menyelami Makna Shalat

Apa itu shalat?

Sebagian orang akan menjawab; Rangkaian gerakan berdiri, rukuk, sujud dan duduk diantara dua sujud.

Atau sebagian orang lagi mungkin berkata: Kewajiban lima waktu yang harus ditunaikan agar terhindar dari dosa.

Secara bahasa, shalat bermakna doa. Allah swt menyebutkan dalam firman-Nya:

“Doakanlah mereka, karena sesungguhnya doamu adalah ketentraman bagi mereka. Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.” ( QS. At-Taubah:103)

 Shalat adalah doa yang menyatukan hati seorang hamba dengan Rabbnya. Bukan sekedar bacaan, melainkan juga pengaduan jiwa yang haus, permohonan hati yang penuh harap dan percakapan intim dengan Yang Maha Pendengar.

 Secara istilah syari’at, para ulama mendefinisikan shalat sebagai ibadah yang khusus yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dan syarat tertentu. Sering kali kita memandang shalat hanya sebagai kewajiban: “ kalau tidak shalat, aku berdosa”. Padahal shalat bukan sekedar kewajiban. Ia adalah undangan penuh cinta dari Allah Swt, kepada hamba-Nya. 

 

Shalat adalah kebutuhan

Dalam sebuah diskusi, Profesor Quraish Shihab pernah menyampaikan sebuah pandangan yang sederhana namun dalam maknanya: “ Orang akan tetap shalat selama masih memiliki rasa cemas dan harap”.

Cemas dan harap adalah dua sisi yang tak pernah lepas dari kehidupan. Cemas terhadap masa depan yang belum pasti, cemas kehilangan orang yang dicintai, cemas terhadap dosa-dosa yang sudah terlanjur dilakukan. Di sisi lain, kita juga hidup dengan harapan keselamatan, keberkahan, rezeki dan ampunan.

Shalat hadir sebagai jembatan yang menautkan antara cemas dan harap itu dengan Allah Swt.

 

Memahami Setiap Gerakan dan Bacaan Shalat

Setiap shalat dimulai dengan satu kalimat agung: “Allahu Akbar”. Dua kata sederhana ini bukan sekedar pembuka, melainkan pintu gerbang menuju perjumpaan dengan Sang Pencipta. Saat kita mengangkat kedua tangan kita sejajar dengan pundak atau telinga, kita seolah berkata: “ Tinggallah kau di belakangku. Mulai saat ini hanya ada aku dan Allah”.

Inilah saat ketika kita memasuki “Wilayah Sakral” shalat. Segala sesuatu diluar takbiratul ihram adalah dunia; setelahnya, kita telah melangkah kea lam yang lebih tinggi, yaitu alam munajat dengan Allah Swt.

1. DOA IFTITAH

Suatu ketika, Ibnu Umar RA berkata, “ Kami pernah shalat bersama Rasulullah Saw, Tiba-tiba ada seorang jamaah yang berdoa dengan suara lantang:

Rasulullah Saw kemudia bertanya, “ Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?”

Orang itu menjawab, “ Saya, ya Rasulullah!” Mendengar itu, Rasulullah Saw kemudian bersabda, “ Aku kagum dengan kalimat itu. Sungguh, kalimat itu mampu membuka pintu-pintu langit.”

Sejak hari itu, Ibnu Umar tidak pernah meninggalkan doa tersebut setiap kali ia berdiri untuk shalat.

 ( HR. Muslim).

Saat kita memulai shalat dengan doa iftitah, sejatinya kita sedang menyambut Allah dengan pujian dan penyerahan diri. Ini adalah moment untuk melepas segala duniawi yang hinggap di hati.

 

2. RUKUK

Punggung lurus sejajar dengan kepala mengajarkan keseimbangan. Yakni tunduk pada Allah Swt dan tegak lurus dalam ketawadhu’an.

Mengapa Allah Swt memerintahkan kita untuk membungkuk? Karena sering kali kita merasa tinggi. Rukuk adalah latihan untuk menundukkan ego, menjinakkan nafsu, dan mengingat hanya Allah satu-satunya yang pantas diangungkan.

 

3. I’TIDAL

Setelah belajar merendah. Kini kita belajar bersyukur Karen amasih diberi kesempatan untuk bangkit. Dalam sekejap kita diingatkan bahwa seluruh kemampuan untuk berdiri, bernafas, bahkan untuk melanjutkan shalat ini, semata-mata pemberian Allah Swt.

 

4. SUJUD

Saat kita menundukkan lutut ke bumi, lalu meletakkan kedua tangan, kening dan hidung ke tempat sujud, sejatinya kita sedang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah sekaligus merasa hina dihadapan-Nya. Namun tetap dalam rasa aman dalam kerendahan karena menemukan kedekatan dengan tuhannya.

   Rasulullah Saw bersabda:

“Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa.”

 

5. DUDUK DIANTARA DUA SUJUD

Gerakan sederhana ini mempunyai makna yang luar biasa didalamnya. Ini adalah symbol kepasrahan total. Dan disini juga kita membaca doa yang sangat dalam maknanya

    "Rabbighfir lii, warhamni, wajburni, warfa’ni, warzuqni, wahdini, wa a’aafini wa’fu ‘anni".

 

Kalimat ini bukan doa biasa. Disini kita diajarkan meminta segalanya kepada Allah Swt:

  • Ampunan atas dosa yang lalu (rabbighfirlii).
  • Rahmat yang meliputi seluruh hidup kita (warhamnii).
  • Kecukupan untuk jiwa yang sering merasa kurang (wajburni).
  • Ketinggian derajat yang hanya Allah yang bias anugrahkan (warfa’nii).
  • Rezeki yang halal dan berkah ( warzuqnii).
  • Petunjuk di jalan yang lurus (wahdini).

Saat membacanya, bayangkan kita sedang duduk dihadapan Sang Maha Pemurah yang dapat menagbulkan segala kebutuhan kita.

 

6. TASYAHUD

Disini kita menyerahkan semua yang agung, seperti kehormatan, kebaikan, dan keberkahan yang hanya untuk Allah Swt. Setiap ucapan ini bagaikan kita sedang mempersembahkan seluruh hidup kita kepada-Nya sebagai bentuk kepasrahan total.

    "Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh."

“Salam, rahmat dan keberkahan Allah semoga tercurah kepadamu, Wahai Nabi.”

Bayangkan: Seandainya beliau hadir, apa yang akan kita katakan? Dan ucapan salam ini juga yang akan dibalas oleh Rasululah Saw, sebagaimana sabda beliau:

 

  “Tiada seorang pun dari umatku yang memberi salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruhku kepadaku hingga aku menjawab salamnya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

   

Dan terakhir saat salam terucap, jangan merasa bahwa pertemuan dengan Allah telah selesai. Dia tetap dekat, lebih dekat daripada urat leher kita. Selepas salam, tugas kita adalah menjaga rasa itu agar tetap hidup dalam langkah-langkah kita. Salam bukanlah akhir hubungan, melainkan tanda untuk pulang membawa cinta-Nya agar kita aplikasikan dalm setiap kata, sikap, dan perbuatan

Comment

Search News

Popular News

TERAPI JUS BUAH...

Sebelum kita mengetahui bagaimana cara...

Siswa SMP Islam...

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh...

Rahasia Awet Muda...

Setiap orang mendambakan hidup yang...

ISTIQOMAH: Jalan Menuju...

Pendahuluan: Sebuah Perenungan Usia

Menulis tentang...

Titik Terendah...

Titik Terendah dalam Kehidupan terkadang...

2026 © copyright by SMP Islam Al-Hadiriyah. All rights reserved.