Perhatian Islam terhadap kondisi hati manusia menempati posisi yang sangat penting, sebab hati (qalb) bukan hanya sekadar organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual, moral, dan intelektual. Para ulama seperti al-Ghazali menjelaskan bahwa hati adalah latifah rabbaniyyah, yaitu dimensi ruhani yang mengendalikan seluruh perilaku manusia. Dengan demikian, kesehatan hati menjadi indikator utama baik buruknya amal perbuatan seseorang, sebagaimana Nabi Muhammad SAW menegaskan dalam hadist:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik, dan jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, kesehatan hati juga menjadi jawaban atas tantangan terkini yang dihadapi manusia modern, seperti krisis identitas, kecemasan, serta ketergantungan pada hiburan duniawi sering kali tidak mampu memberi ketenangan batin. Padahal Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa ketenangan hati hanya dapat diperoleh dengan mengingat Allah SWT. “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (Q.S. Ar Rad: 28)
Hal ini menunjukkan bahwa kualitas individu manusia merupakan dampak dari kemampuan dalam merawat hati, bukan hanya sekedar merawat fisik. Untuk menjaga kesehatan hati, penting untuk menumbuhkan kesadaran spiritual. Selain penting dari sudut pandang teologis, hal ini memiliki manfaat dalam membantu mengembangkan karakter moral, integritas, dan kapasitas umat Islam untuk menghadapi dilema etika di era globalisasi. Oleh karena itu, fondasi keimanan dan ketakwaan perlu diperkuat melalui pembahasan mendalam yang berkelanjutan tentang kesehatan hati.
Definisi Hati:
- Imam Al-Ghazali: Hati (qalb) adalah suatu hakikat ruhani yang halus (latifah rabbaniyyah) yang berkaitan dengan jasmani manusia. Hati merupakan pusat kesadaran, pengetahuan, dan tempat terbitnya niat, sehingga menjadi penentu baik atau buruknya perbuatan seseorang. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara aspek ruhani dan jasmani dalam diri manusia. Hati dalam makna ruhani berfungsi mengendalikan perilaku lahiriah, sedangkan hati dalam makna biologis berperan dalam menjaga kehidupan fisik. Ketika hati ruhani ini dipenuhi cahaya iman, maka anggota tubuh akan mengikuti dengan amal Sholeh. Begitupun sebaliknya, jika hati kotor oleh penyakit batin, maka perilaku yang muncul akan cenderung menyimpang (Al-Ghazali, 2023).
- Ibnu Qayyim Al-Zaujiyyah: Hati adalah raja bagi seluruh anggota tubuh. Jika hati baik, maka seluruh anggota tubuh akan baik dan jika hati rusak, maka seluruh tubuh pun akan rusak. Hati memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai pusat keyakinan dan pusat kemauan (iradah). Hati berperan mengarahkan kehendak manusia kepada kebaikan atau keburukan. Kehendak inilah yang kemudian mendorong anggota tubuh untuk beramal (Ibn Qoyyim, 2018).
- Imam An-Nawawi: Hati sebagai tempat bertumpunya niat dan keikhlasan. Hati menentukan diterima atau tidaknya amal, karena Allah melihat pada hati dan amal, bukan pada rupa dan bentuk f isik. Dengan demikian, segala amal manusia pada hakikatnya bergantung pada kondisi hati yang melandasinya (An-Nawawi, 2022).
Kedudukan Hati:
- Hati yang Sehat: Hati yang sehat adalah hati yang bersih, yakni hati yang harus dimiliki seseorang agar selamat ketika menghadap Allah SWT. Hati yang sehat disebut sebagai Qolbun Salim. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Q.S. Asy-Syu'araa': 88-89). Nabi Muhammad SAW juga mengatakan dalam hadistnya bahwa kemuliaan manusia dilihat dari kesucian hati dan amalnya. “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk badan atau rupa kalian, tetapi Dia melihat terhadap hati kalian dan amal kalian.” (H.R. Muslim). Para ulama banyak mengartikan kata Qolbun Salim, diantaranya yaitu: (a)Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah Al-Qalb as-salim merupakan hati yang bersih dari syahwat yang menentang perintah dan larangan Allah dan dari syubhat yang bertentangan dengan firman Nya (Ibn Qoyyim, 2018). (b)Imam An-Nawawi Al-Qalb as-salim adalah hati yang bebas dari syirik, riya, hasad, kebencian, dan penyakit batin lainnya. Amal yang dilakukan dengan hati bersih akan diterima Allah, sedangkan amal yang tercampur niat buruk tidak memiliki nilai di sisi-Nya An-Nawawi, 2022). (c)Imam Al-Ghazali Al-Qalb as-salim merupakan hati yang menjaga integritas spiritual dengan ikhlas, konsisten dalam dzikir, dan penuh niat tulus hanya karena Allah SWT (Al-Ghazali, 2023). Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Hati yang sepenuhnya suci dari segala bentuk penyimpangan keyakinan, penyakit batin, dan dorongan nafsu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Hati ini bersih dari syirik, riya, hasad, kebencian, serta bebas dari syubhat yang menyesatkan. Ia terjaga melalui keikhlasan, keteguhan dalam dzikir, dan niat tulus semata-mata untuk Allah, sehingga setiap amal yang lahir darinya bernilai tinggi di sisi-Nya dan menjadi jalan menuju keselamatan akhirat.
- Hati yang Mati: Hati yang mati adalah hati yang terkunci, tidak bisa menerima nasehat, dan tidak dapat menerima petunjuk hidayah dari Allah SWT. Sebagimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an: “Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Pada penglihatan mereka ada penutup, dan bagi mereka azab yang sangat berat.” (Q.S. Al-Baqarah: 7) Ayat tersebut menunjukkan bahwa penguncian hati dan alat indra manusia disebabkan karena hati yang dibiarkan sehingga tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah SWT. Dalam surat lain, Allah SWT berfirman: “...Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (Q.S. Al-A’raf: 179).
- Hati yang Sakit: Hati jenis ketiga adalah hati yang hidup namun terkena penyakit. Di dalamnya terdapat dua kekuatan yang saling memengaruhi, di mana kadang salah satu kekuatan lebih dominan dan menarik hati tersebut ke arahnya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta..” (Q.S. Al-Baqarah: 10). Hal ini memperlihatkan posisi manusia yang memiliki penyakit hati. Mereka akan berada pada kekuatan cinta kepada Allah SWT yang mengajaknya Kembali pada ajaran Allah SWT dan Rosul-Nya. Disisi lain mereka beraad pada kekuatan cinta kepada syahwatnya yang selalu mengajak pada kenikmatan dunia yang sesaat.
Dengan demikian, materi ini menegaskan bahwa inti dari kebahagiaan dan keselamatan manusia terletak pada kondisi batin yang murni. Hati yang sehat (qalbun salim) menjadi kunci diterimanya amal, sumber ketenangan jiwa, serta jalan menuju ridha Allah. Sebaliknya, hati yang sakit atau mati menjadikan manusia terjerumus dalam kesesatan, meskipun secara lahiriah ia tampak beramal. Oleh karena itu, upaya merawat hati melalui dzikir, ikhlas, muhasabah, dan menjauhi penyakit batin merupakan kebutuhan mendasar bagi seorang Muslim.